Feb.

26 02 2009

Februari.
Kamu datang dan pergi. Tidak pernah jelas berapa hari.
Apakah 28 atau 29 tahun ini.

Februari.
Kamu terasa berat. Aku berkali-kali tersesat. Di semak hari yang menebar dia antara bulan ini, Februari.
Aku ingin pergi, Februari. Melupakan aroma bulan yang harusnya penuh cinta, tapi kamu tak lebih hanya memberiku luka dan sengsara.

Februari.
Aku perih.
Aku sedih.

Aku bukan lagi setaun lalu yang berbahagia denganmu, Februari.
Aku pemuran yang tak henti menyesali nasib dan mengutuk hari kamu datang lagi.
Kenapa harus bulan ini, Februari?

Aku harus pergi.
Tinggalkan aku sendiri.
Jauh dari kamu, Februari.





januari

8 01 2009

Jangan lagi kamu datang wahai Januari.

Jangan lagi kamu sayatkan luka yang sudah aku bebat selama 334 hari.

 

Sudah cukup aku merasakan malam panjang dan pergantian mimpi yang seharusnya berakhir di malam ketika kamu datang, Januari. Aku tak lagi mau kamu, Januari.

 

Kamu cuma bagian dari keraguan yang terus merenggut hari-hariku yang seharusnya indah dan berpelangi. Kamu bagian dari fatamorgana mimpi yang sungguh tak mau aku tiduri. Oh! Jangan sampai aku harus menikahimu, Januari. Ke mana lagi larinya harga diri?

 

Aku lelah memanggul beban ini, Januari. Kamu terlalu riskan untuk aku akui. Kamu tidak nyata, Januari. Kamu tidak ada di sini. Kamu akan pergi ketika bulan berganti dan muncul lagi setahun nanti.

 

Akupun patah hati..

Terlalu sering kamu pergi dan aku sibuk mengobati luka-luka yang mulai menggerogoti nyawaku ini. Aku berhalusinasi, Januari. Kamu tak pernah pasti. Aku hanya berharap sendiri.

 

Cerita kita tidak akan pernah ada, Januari.

Tidak sekarang, tidak besok, dan tidak juga nanti.

 

Akupun tega membohongi diri sendiri..

Tertidur di alam yang tak tentu selama 31 hari..

Melarikan diri dari dunia yang tak mau akui, Januari..





mar-uk, yang penting bukan dia!

10 11 2008

Kembali aku mendua. Ini bukalah kali yang pertama. Entah sudah yang keberapa. Yang jelas aku tak mau menghitungnya.

Ini bukan salahnya, ini murni aku yang berdosa. Entah selalu ada yang kurang rasanya. Bukan,  bukan urusan bercinta. Atau rasa yang dia hujankan padaku semata. Entah karena apa. Mungkin akunya saja yang gila. Aku yang ingin main mata. Aku butuh rasa yang berbeda. Yang pasti bukan dia.

Bosan.

Dengan rutinitas yang itu-itu saja. Hidupku terasa hampa. Cinta tak lebih dari sekedar kata. Rindu bukan lagi hal yang aku damba. Yang pasti bukan dari dia. Aku mau yang lainnya. Entah siapa.

Aku serakah.

Dengan segala yang aku punya. Masih juga tidak mensyukurinya.

Sungguh harusnya cukup aku bahagia dengan si empunya. Namun hati tidak pernah berpuas diri, aku manusia biasa. Hidup dalam dunia yang serba iri dengan tetangga. Jadilah aku terus meminta, hal yang lebih daripada lainnya.

Sama halnya dengan soal si dia.

Aku tidak mau cuma satu, lebih baik dua, atau malah tiga.

                Asalkan aku tidak berdua saja dengan dia. Bukan, bukan cuma dia. Aku cuma berpura-pura. Selama ini aku hidup dalam dusta, aku tak lagi cinta.

                Hmm.. Aku bosan dengan dia. Dengan setengah rasa yang mampu diberinya. Dan aku tak pernah merasa terpenuhi karenanya. Mungkin sebaiknya kita sudahi saja. Toh cinta tak lagi ada..





duniawi

9 11 2008

Harusnya aku yang bicara.

Aku yang punya ini kata-kata.

Aku yang jadi tuan dari apa yang aku rasa.

Aku yang berkuasa!

Kamu tau apa?

 

                Ketika Tuhan tidak lagi berkuasa. Manusia merajalela. Bertingkah seolah dia tau segala. Bisa merambah dunia dengan mudah pikirnya.

                Tapi siapa pencipta? Tak ada yang ingat lagi pada-Nya. Semua sudah terlupa. Tak paham ada yang Maha Kuasa. Buta akan nikmat dunia. Teracuni oleh iblis yang bermukim di neraka.

                Mereka pikir ini semua nyata. Merasa kalau dunia ini abadi rasanya. Bodohnya! jelas-jelas ini semua fana. Karena nanti akan juga tiba harinya. Saat manusia tak lebih dari serangga-serangga. Terbang menari-nari di udara. Tanpa pegangan dan suatu apa.

                Tapi mereka tau apa?

                Dunia dunia dunia..

                Nikmat rasanya. Abadi di neraka. Mereka menimbun dosa. Dari mulai gibah sampai zina.

 

Hingga nanti tiba saat di kuburnya,

malaikat akan bertanya.

Tapi mulut tak lagi untuk bicara,

karena Tuhan yang berkuasa! 





kata

4 11 2008

“let them remains in mystery, cause some stories are better left unspoken..”

 

Kataku adalah suatu yang tabu. Satu yang harusnya tak kau tahu.

Bukan untuk diperjualbelikan layaknya madu. Karena kata adalah hartaku.

 

Milikku.

Tidak untuk kubagi padamu.

Hmm.. Mungkin boleh kau rasakan, tapi tak lagi kau boleh minta padaku.

Cukup satu dan tak akan lagi ada yang lain atau bahkan membentuk sebuah lagu.

 

Hartaku.

Aku mau kamu, kataku.

 

 





pos.se.ssi.ve

29 09 2008

possessive: the case expressing ownership; serving to express or indicate possession; desirous of owning

“possessive: having or showing a desire to control or dominate”

 

kayanya definisi yang kedua agak kurang enak untuk dibaca ataupun didengar. desire to control or dominate.. my first thought was, “Anjrit! Gue didominasi! Gue gas bisa ngontrol diri gue dong! Kampret!”

basically, gue agak sangat tidak setuju dengan pacaran yang posesif. kenapa?

well, the first rule of relationship is based on trust. nah kalo menurut gue nih yaaa.. possessive itu mengindikasikan there’s a lack of trust in relationship. 

katanya percaya, tapi dikit-dikit harus nelpon dan ngecek. sms dibalesnya agak lama dikit, langsung sewot dan curiga abis “ngapa-ngapain”. hmpf.. capek dan agak begah juga. kalo skali2 mungkin yaudahlah yaaa.. kalo keseringan? buset! minta digampar bolbal jamjaman kayanyaaa..

“HEY DARLING! I HAVE MY OWN LIFE!”

gue orang yang cukup cuek tapi bisa juga perhatian. tergantung penempatan sikonnya. gue bukan orang yang bisa bermanja-manja setiap saat setiap waktu, tapi kalo emang dibutuhkan gue bisa menjadi super spoiled brat. sekali lagi, tergantung sikon. gue orang yang bisa menjadi sperti saat ini atau opposite nya di waktu yang berlainan.

Bukan, bukan gue punya multiple personality yahhh..

gue orang yang jealous-an TAPI TIDAK posesif!

jadi kalo orang mulai mengatur hidup gue lebih dari kehendak gue, yang ada adalah gue akan meledak dan menyemprot orang itu habis-habisan krn dengan mengatur gue lebih dari batas toleransi gue (yang emang sangat minim), udah pasti gue bakalan cranky sejadijadinya.

 

Gila kali yah, bukan BAPAK gue atau blom jadi SUAMI gue aja ribetnya udah setengah mati. gmana ntar kalo nikah beneran? gue mau di krangkeng ato dirantai?

 

cara paling baik untuk meng-counter attack itu smua tentunya dengan menegaskan ke orang yang bersangkutan (in my case yah si pacar-yang-on-the-way-menuju-posesif) bahwa:

“GUE HIDUP LEBIH LAMA SAMA DIRI GUE, GUE JAUH LEBIH KENAL DIRI GUE SENDIRI DARIPADA LO KENAL DIRI GUE, DAN SATU HAL YANG PALING PASTI.. GUE JAUUUUHHH LEBIH SAYANG DIRI GUE SENDIRI DARIPADA ORANG LAIN!”

the point is: screw you! terserah deh mau protes juga bodo amat. take it or leave it? egois skali? MEMANG! kalo orang yang udah mengidap gejala posesif gue rasa harus DIKERASIN balik! kalo ga, yang ada dia bakalan mendominasi diri kita. ho ho ho big no no!!! NO F*CKING WAY!

 

gue tetep mengutamakan kenyamanan diri gue sendiri. karena pada akhirnya kita tetep harus deal with ourselves daripada sama orang lain. bukan brarti gue egois yet self centered berlebihan. but trust me, diri kita jelas harus didahulukan. hey we live our own life. in the end, no one will help ourself lohhh.. (ya kalo menilik hari kiamat nanti dan gosipnya pas ntar dihisab). jadi walopun gue sayang dengan seseorang tapi dia mulai nganehnganeh dan kalo logika mulai tidak bisa menerima…

 

ADIOS, DARLING!

 





ahnanonano

26 09 2008

Gelisah.

Malam ini aku kembali resah.

Di mana kamu, sayang?

Perih ini kembali datang mengetuk pintunya. Rindu ini merasakan jurangnya. Kesepianku yang telah bertemu tepinya.

Mungkin malam ini memang untuk kamu, sayang.

Hausku telah merobek pembuluh darahku. Mengais-ngais jejak yang sudah kamu tutupi dengan debu. Aku ingin menghantui kamu. Sungguh.

Tapi di mana remah yang kamu tinggalkan, sayang?

Gelisah.

Aku tersesat. Di mimpi yang pernah kukecap, walau hanya sesaat. Merasakan mabuknya luka yang kamu sayat. Dan panasnya hati, kala cemburu pernah membuatku berat.

Aku rindu manis yang membuatku muntah, sayang.

Aku rindu asam yang membuat lukaku semakin perih, sayang.

Aku rindu pedas yang membuatku ketagihan, sayang.

Aku rindu pahitmu, sayang.

Karena pahit itu membuat aku yakin kalau memang kamu ada. Kalau kamu pantas mendapatkan secuil rasa. Kalau memang rindu ini tidak ada yang punya. Kalau kamu memang bukan yang jadi tuannya.

Kalau kita tidak lagi bersama.





m e n d a m b a d o s a

17 09 2008

Aku mencumbu rasa perih yang kau sayat berkali-kali.

Aku menjilati luka yang kau biarkan menganga berhari-hari.

Aku menduri mimpi yang selalu kau ludahi.

Aku memeluk benci yang kau siramkan setiap hari.

Aku mendambakan dosamu, sayangku.

 

3 tahun. 36 bulan. 1.095 hari. 26.280 jam. 1.576.800 menit.

Aku lelah mengais mimpi yang selama ini aku harap akan kamu lemparkan padaku. Anggap saja aku pengemis di luar sana yang selalu menghiba mengharap kamu. Tapi mana pernah kamu peduli? Tunggu saja, sayang.. Sampai tiba saatnya aku menghilang dari hadapan kamu. Kamu akan sadar betapa pentingnya aku.

Aku tau kalau ini mungkin cinta. Kalau ini mungkin masa depan yang nantinya akan kita tapaki bersama. Tapi maafkan aku sayang, kita tidak lagi memakai sepatu yang sama. Visiku telah berubah. Di kamusku tidak lagi tertulis nama kamu.

Aku merasakan gelombang antusiasme di sekujur tubuhku. Aku lepas dari kamu!

Ya kamu! Ini merupakan petualangan yang baru di hidupku. Maaf sayang.. aku sudah cukup bersabar untuk kamu. Maaf kalau kali ini aku terpaksa menepis harapan yang kamu hujankan padaku. Bukan sekarang yang aku mau. Itu dulu. Mungkin tidak terlambat. Hanya saja aku sudah tidak mau. Tapi sekarang itu sudah tidak penting lagi bukan, sayangku?





siento

15 09 2008

sorry: feeling or expressing regret or sorrow or a sense of loss over something done or undone.

 

i’ve lost a lot of things only in one night. yap! gue harus nge-delete/nge-hide memori gue slama 3 taun. hmm.. tnyt memutuskan sebuah (what-so-called) long relationship is not a good idea at all yah! susah buat baik2 lagi, krn terlalu menyakitkan. yah.. asumsi gue sih sperti itu yah. mnrt lo?

gue sbenernya ga mikir yang muluk2 pas ngejalanin my former relationship. knp? krn yahh tadinya mungkin ada sih ngayal2 menuju jenjang yg lebih pasti. tapi tnyt keyakinan gue yang ada itu lama kelamaan surut, seiring sama jalannya waktu. smuanya berubah cuma jadi comfort zone semata, dan gue spoiled aja dgn smua itu. ujung2nya gue suka ngegampangin apa yang gue punya.

pasti pada nyangka kalo sifat gue jelek bgt kan?

terserah lah. banyak yang nge-push gue untuk ini-itu. padahal itu sbenernya bukan yang pengen gue lakuin. gue terlalu sibuk dengerin apa kata orang, dan sibuk struggling dengan masalah gue. akhirnya pikiran gue kebagi dua. bingung, clueless. padahal katanya sih gue udah punya jawabannya. heh? dari mana??? wangsit dukun?

krn keadaan gue yang terus berlarut2 itu lah akhirnya gue menyakiti banyak pihak. sedih sih. tapi gue berpikir, “Ini saat yang paling pas buat lo egois!” dan ternyata adalah gue tidak menemukan jawaban apapun sama skali. walaupun udah terlontar sebuah jawaban, tetep aja gue mikir kalo jawaban itu masih bisa berubah karena orang pasti akan mengerti dengan mau gue.

manja, egois bgt kan?

tapi deep down inside, gue ga seegois itu ko. beneran deh! gue terus2an nyalahin diri gue sendiri sama keputusan 2 yang udah gue perbuat. kebodohan2 yang gue lakuin. dan hal2 yang gue jalanin tanpa pikirin  ke depannya gmn.

gue jalan di tempat.

tapi akhirnya gue berpikir, “There’s must be something with all this signs and premonitions.”

you may say that this is cheesy, but i call it faith.

knp pada akhirnya gue harus berpisah dengan si masa lalu dan ber halo-halo ria dengan si masa skarang. dengan segala kemungkinan yang ada, akhirnya gue berasumsi, kalo.. maybe this is the answer for my prayer.

 

lo siento, chico. lo siento.

 

gue menyadari kalo tnyt ini terlalu menyakitkan buat kita semua dan pada akhirnya gue harus tetap memilih. dan di bawah tekanan. gue mendeklarasikan kalo sbaiknya gue dengan keadaan gue yang sperti skrg.

sedihnya, gue ga bisa berbaik2 sama si masa lalu. krn dia mungkin pgn nge-erase gue dari memorinya. krn mungkin byte-nya terlalu besar sampe akhirnya bikin rusak. ga apa2. gue duah tau konsekuensinya. toh awalnya itu smua salah gue.

hmm.. maafin gue. bukan brarti gue ga sayang dengan masa lalu gue. cuma gue harus bisa mendewasakan diri dengan ngejalanin pilihan gue. bertanggung jawablah paling ga. lagian kalo ga gue coba kan ga akan pernah tau?

yahh.. harapan gue sih smoga keadaan bisa lebih baik. smoga ada hal yang bisa diubah tanpa harus ngorek2 luka lebih dalem lagi.

 

maafin gue. maafin gue. maafin gue, dan maaf pun ga akan pernah cukup buat ngehapus sakit hati yang pernah kita rasain.

maaf ya…





membelidosa

11 09 2008

Written : Somewhere in July 2007

Tak kuingat apa yang terjadi semalam. Hanya tau ketika itu aku bilang, “SATU”. Setelah itu semuanya tampak kabur dan melayang.

“SATU”

Setelah itu kureguk dengan penuh kenikmatan. Hilang sedikit akal dan bertambah lagi. Aku seakan tak ingin berhenti. Sampai hiruk pikuk menenggelamkan sadarku. Lalu tangan-tangan serakah menelan tubuhku. Hingga tak satu incipun mereka lewatkan.

Malam.

Semalam nampaknya aku tak sadar, terkapar. Merayap sedikit demi sedikit ke tempat seharusnya aku berada tiap malam. Tapi tak pernah kurasa adanya. Aku terlalu sibuk pergi dan baru kembali setelah semuanya terang. Ya, tentunya sambil mengumpulkan robekan diriku yang tercecer dan nyaris punah.

Aku tak mau berhenti. Tak pernah ada kata berhenti.

Kembali malam ini kuulang lagi yang mereka sebut surga duniawi. Neraka yang kutau akan abadi di penghujung hari. Ah, persetan! Siapa yang peduli?

Sama seperti malam sebelumnya, sebelumnya, dan sebelumnya lagi. Mungkin ini malam yang keseribu.

“SATU,” kubilang.

Lalu akupun terlelap sambil kembali mereguk dosa.