breeding superstition
a fatal premonition
you know you got to envision
the fiery crash
(Fiery Crash – Andrew Bird)
Saya mungkin bukan orang yang pandai bersyukur. Saya juga bukanlah orang yang selalu mengeluh terhadap hal-hal sepele yang malang melintang di kehidupan ini.
Namun ada kalanya saya bertanya-tanya. Seperti perasaan tidak puas yang terus mengganjal. Bertahun lamanya terus mengendap dan sesekali keluar untuk memuntahkan laharnya. Sekedar menunjukkan bahwa hal itu nantinya akan kembali terpendam. Diam sampai tiba waktunya untuk lahar itu keluar dari perutnya. Intinya. Pusatnya.
21 tahun. Ah bukan, nyaris 22 tahun.
Saya bergelut dengan kepala. Saya bergelut dengan rasa.
Pertanyaannya: kapan ya?
Mungkin mereka tidak mengenal saya. Mungkin mereka tidak peduli dengan keberadaan saya. Namun ptongan-potongan gambar itu selalu membuat saya iri. Membuat rasa penasaran saya meledak-ledak. Saya ingin tahu rasanya. Seperti apa?
Berkali-kali saya mencoba menyelamatkan diri dari kubangan yang sama. Tapi hasilnya tak pernah berbeda. Mungkin nanti saatnya. Entah kapan dan dimana. Saya yang harus memotong garisnya.
Terus-terusan menganggap ini semua bencana. Sialnya bukan saya yang berencana. Lalu hendak apa? hendak bagaimana? Ini kehendak Yang Maha Kuasa.
Mendengus kesal tiada henti. Diselingi derai tawa bahagia. Mengiringi kepalsuan dan tanda tanya yang terus menerus bertengger di kepala. Jiwa terus menerus memanggil. Ujungnya hanya lolongan kosong yang menemani saya sampai hari akhirnya berganti.
Baru saja terpikir bahwa nyaman itu ada. Tapi lagi-lagi harus mencincang dan merajam semua pikiran yang ada. Fatamorgana. Bayangan itu hanya sekelebat saja. Ketika potongan-potongan gambar itu kembali menempatkan faktanya di depan mata. Saya hanya bisa tergagap. Lalu perlahan terdiam dan berpikir untuk mengakhiri saja.
Tapi lagi-lagi bukan saya yang berkuasa. Saya hanya cameo dalam drama panjang kehidupan Yang Maha Kuasa.
Rasa iri berubah menjadi dengki. Dengki meluluhlantakkan semua harapan yang pernah saya bangun. Apatis. Saya berubah menjadi apatis.
Untuk apa saya percaya angan-angan kalau nantinya semua hanya akan menyerang balik dan merobek-robek indahnya khayalan? Lebih baik diam dan menggumam sendiri. Merepel mantera bahagia walaupun itu semua sia-sia.
Saya bukan seorang yang pesimis. Saya bukan juga orang yang optimis.
Terlalu banyak kenyataan pahit yang saya lihat dan buktikan dengan mata kepala sendiri. Membuat saya tidak tahu lagi harus percaya yang mana. Memilih langkah yang mana. Memposisikan diri saya di mana. Semuanya nampak salah.
Rasa aman dan tenteram menjadi barang langka dan mahal bagi saya. Kehidupan pada akhirnya dinilai dengan nilai materi yang dibuat-buat belaka. Hilang sudah rasa ikhlas dan bangga. Saya tidak lebih dari cacian dan hinaan dari rasa kecewa yang mereka elu-elukan. Sialnya saya menerima.
Kepuasaan batin nyaris tidak terasa. Saya terlalu sibuk bergulat dengan masa lalu dan berharap utnuk tidak mengulang sejarah yang sama. Dua kali kegagalan. Akankah ada yang ketiga?
Mungkin bukan keinginan mereka bahwa saya akhirnya menginjakkan kaki ke dunia. Mungkin bukan ingin mereka bahwa akhirnya saya bernapas di liangnya. Mungkin bukan ingin mereka saya akhirnya merajalela di rumahnya.Tapi tentu bukan pilihan saya untuk memiliki mereka untuk mejadi tempat bernaung nantinya.
Saya kehilangan nyawa.
Mereka terlalu sibuk menambal luka-luka yang terlanjur menganga. Mereka terlalu sibuk dengan keadaan duniawi hanya untuk membalaskan dendam yang lama. Mereka terlalu sibuk untuk mencari-cari kesalahan yang bukan milik empunya.
Saya adalah penggambaran kegagalan mereka. Tidak pernah terbesit kesempatan untuk dapat memperlihatkan sinarnya. Saya meredup. Saya kisut. Saya memudar. Mungkin nantinya juga modar.
Saya saya saya.
Saya kembali bergelut dengan kepala. Saya kembali bergelut dengan rasa.
Pertanyaan itu terus membombardir kepala.
Mungkin nanti. Lima atau sepuluh tahun lagi.
Mungkin saya bisa.
Mungkin saya akhirnya akan punya..
sebuah keluarga..