Vodka

28 01 2010

Vodka.

Can you take my pain away?

Away, away from this reality.

Save me from unwritten future.

I’m scared.

I’d rather live in your illusion.

Painless and no more sorrow.

Colorful and hallucinations.

Caleidoscope and no more horror.

Vodka.

I’d rather stay like this forever.

It’s pretty clear that i become an alcoholic.

Cause this madness in life gets me frantic.

But I know somehow you’re gonna keep me warm.

Away, away from this cold war.

This is a life that i loathe.

And one day illusion become reality.

Little by little I’m losing my sanity.

Caleidoscope colors and no more horror.

Just me and you, Vodka.





rasa dan kata

1 11 2009

breeding superstition
a fatal premonition
you know you got to envision
the fiery crash

(Fiery Crash – Andrew Bird)

 

Saya mungkin bukan orang yang pandai bersyukur. Saya juga bukanlah orang yang selalu mengeluh terhadap hal-hal sepele yang malang melintang di kehidupan ini.

Namun ada kalanya saya bertanya-tanya. Seperti perasaan tidak puas yang terus mengganjal. Bertahun lamanya terus mengendap dan sesekali keluar untuk memuntahkan laharnya. Sekedar menunjukkan bahwa hal itu nantinya akan kembali terpendam. Diam sampai tiba waktunya untuk lahar itu keluar dari perutnya. Intinya. Pusatnya.

21 tahun. Ah  bukan, nyaris 22 tahun.

Saya bergelut dengan kepala. Saya bergelut dengan rasa.

Pertanyaannya: kapan ya?

Mungkin mereka tidak mengenal saya. Mungkin mereka tidak peduli dengan keberadaan saya. Namun ptongan-potongan gambar itu selalu membuat saya iri. Membuat rasa penasaran saya meledak-ledak. Saya ingin tahu rasanya. Seperti apa?

Berkali-kali saya mencoba menyelamatkan diri dari kubangan yang sama. Tapi hasilnya tak pernah berbeda. Mungkin nanti saatnya. Entah kapan dan dimana. Saya yang harus memotong garisnya.

Terus-terusan menganggap ini semua bencana. Sialnya bukan saya yang berencana. Lalu hendak apa? hendak bagaimana? Ini kehendak Yang Maha Kuasa.

Mendengus kesal tiada henti. Diselingi derai tawa bahagia. Mengiringi kepalsuan dan tanda tanya yang terus menerus bertengger di kepala. Jiwa terus menerus memanggil. Ujungnya hanya lolongan kosong yang menemani saya sampai hari akhirnya berganti.

Baru saja terpikir bahwa nyaman itu ada. Tapi lagi-lagi harus mencincang dan merajam semua pikiran yang ada. Fatamorgana. Bayangan itu hanya sekelebat saja. Ketika potongan-potongan gambar itu kembali menempatkan faktanya di depan mata. Saya hanya bisa tergagap. Lalu perlahan terdiam dan berpikir untuk mengakhiri saja.

Tapi lagi-lagi bukan saya yang berkuasa. Saya hanya cameo dalam drama panjang kehidupan Yang Maha Kuasa.

Rasa iri berubah menjadi dengki. Dengki meluluhlantakkan semua harapan yang pernah saya bangun. Apatis. Saya berubah menjadi apatis.

Untuk apa saya percaya angan-angan kalau nantinya semua hanya akan menyerang balik dan merobek-robek indahnya khayalan? Lebih baik diam dan menggumam sendiri. Merepel mantera bahagia walaupun itu semua sia-sia.

Saya bukan seorang yang pesimis. Saya bukan juga orang yang optimis.

Terlalu banyak kenyataan pahit yang saya lihat dan buktikan dengan mata kepala sendiri. Membuat saya tidak tahu lagi harus percaya yang mana. Memilih langkah yang mana. Memposisikan diri saya di mana. Semuanya nampak salah.

Rasa aman dan tenteram menjadi barang langka dan mahal bagi saya. Kehidupan pada akhirnya dinilai dengan nilai materi yang dibuat-buat belaka. Hilang sudah rasa ikhlas dan bangga. Saya tidak lebih dari cacian dan hinaan dari rasa kecewa yang mereka elu-elukan. Sialnya saya menerima.

Kepuasaan batin nyaris tidak terasa. Saya terlalu sibuk bergulat dengan masa lalu dan berharap utnuk tidak mengulang sejarah yang sama. Dua kali kegagalan. Akankah ada yang ketiga?

Mungkin bukan keinginan mereka bahwa saya akhirnya menginjakkan kaki ke dunia. Mungkin bukan ingin  mereka bahwa akhirnya saya bernapas di liangnya. Mungkin bukan ingin mereka saya akhirnya merajalela di rumahnya.Tapi tentu bukan pilihan saya untuk memiliki mereka untuk mejadi tempat bernaung nantinya.

Saya kehilangan nyawa.

Mereka terlalu sibuk menambal luka-luka yang terlanjur menganga. Mereka terlalu sibuk dengan keadaan duniawi hanya untuk membalaskan dendam yang lama. Mereka terlalu sibuk untuk mencari-cari kesalahan yang bukan milik empunya.

Saya adalah penggambaran kegagalan mereka. Tidak pernah terbesit kesempatan untuk dapat memperlihatkan sinarnya. Saya meredup. Saya kisut. Saya memudar. Mungkin nantinya juga modar.

Saya saya saya.

Saya kembali bergelut dengan kepala. Saya kembali bergelut dengan rasa.

Pertanyaan itu terus membombardir kepala.

Mungkin nanti. Lima atau sepuluh tahun lagi.

Mungkin saya bisa.

Mungkin saya akhirnya akan punya..

sebuah keluarga..





This is it. This is love.

31 10 2009

I almost forget the way it feels.

The way it taste.

The way it touch.

The way I survive the pain

The way I cherish the moments.

 





    AAAAA

    23 10 2009

    Beginilah adanya. Beginilah awalnya.

    Karena mereka tidak ada yang percaya bahwa ternyata satu adalah kita.

    Jangan pedulikan gunjingan mereka tentang kita. Karena siapa pula yang akan menyangka?

    Rasa sakit hati dan akhir dari sesuatu yang panjang lah yang membawa kita ke sana. Ke sebuah jalan yang membuat kita harus bersapa di ujungnya. Padahal nyaris seribu lima puluh hari kita tak bicara. Bersua pun hanya sekadarnya. Tidak bersuara.

    Awalnya hanya coretan semata. Iseng-iseng belaka. Gurauan tanpa makna. Pertemuan-pertemuan sekenanya. Lama-lama berubah jadi apa-apa. Getar-getar malu yang saling bersembunyi di balik kedok kata suka. Tapi ternyata suka bukan definisi tepat untuk mengutarakannya. Lalu apa?

    Tertarik. Ada magnet dari dirimu yang membuat saya bergidik. Semilir tapi pasti kamu membuat perasaan ini naik turun dan menukik. Cemburu-cemburu yang membuat saya tercekik. Dan cupid pun mulai menghardik.

    “INI CINTA! MASIH JUGA KAMU MALU MENYADARINYA?!”

    Apakah iya?

    Saya bertanya-tanya.

    Tapi luka lama masih menyisakan trauma. Masih tersimpan aromanya. Masih bisa saya hirup perihnya. Masih bisa saya genggam dosanya.

    Kamu pun begitu. Berusaha melepaskan predikat yang makin lama kian melekat. Menjalar-jalar hingga membuat hati kamu tersumbat. Indra perasamu makin terhambat. Dan waktu pun akhirnya melambat. Menyisakan keremangan masa lalu yang hanya membuat hidup kamu tersendat.

    Namun siapa yang bisa berkehendak?

    Apakah kamu? Apakah saya?

    Siapa?

    Cepat. Mendadak waktu bergerak begitu cepat.

    Seperti mengerjapkan mata. Seperti kilatan cahaya. Seperti getaran gempa. Seperti sedapnya harum bunga. Seperti euphoria yang mendadak berputar dan memenuhi seluruh rongga dada.

    Tersadar. Lalu dada berdebar. Bibir tak hentinya berkoar.

    “CINTA CINTA INI EUPHORIA CINTA CINTA INI EUPHORIA!”

    Lalu kita pun terbutakan oleh gegap gempita kesenangan tanpa batas. Spontanitas yang melewati ambang batas. Lepas lepas lepas lepas!

    Pergi semua duka yang pernah menghajar! Pergi semua derita yang menyambar! Pergi semua galau yang pernah membakar!

    “HATI INI SEDANG MEKAR!”

    Ah sungguh saya tak peduli lagi dengan segala yang ada. Mungkin saat ini saya cuma butuh kenangan yang pas saja. Karena mungkin besok tidak lagi sama. Tidak perlu rakus dengan kesempurnaan yang ada.  Saya cuma butuh kamu, cinta..





    Nanti

    10 10 2009

    Nanti nanti.

    Biar saya pikirkan lagi nanti-nanti. Tidak sekarang tidak juga hari ini.

    Masih terlalu muda untuk memikirkannya, buat apa bersusah diri.

    Biarkan saja kali ini emosi meledak-ledak dan hidup dalam ambisi.

    Terobsesi. Adiksi.

    Nanti nanti.

    Pikirkan saja nanti. Toh masih lama juga nyawa bakal lari.

    Yang penting hati senang dan puas menari-nari.

    Ya, karena ini adalah kata sakti. Penawar rindu pembalut sakit hati.

    Ambisi.

    Obsesi.

    Adiksi.

    Saat ini..

    Saya jatuh hati.





    Feb.

    26 02 2009

    Februari.
    Kamu datang dan pergi. Tidak pernah jelas berapa hari.
    Apakah 28 atau 29 tahun ini.

    Februari.
    Kamu terasa berat. Aku berkali-kali tersesat. Di semak hari yang menebar dia antara bulan ini, Februari.
    Aku ingin pergi, Februari. Melupakan aroma bulan yang harusnya penuh cinta, tapi kamu tak lebih hanya memberiku luka dan sengsara.

    Februari.
    Aku perih.
    Aku sedih.

    Aku bukan lagi setaun lalu yang berbahagia denganmu, Februari.
    Aku pemuran yang tak henti menyesali nasib dan mengutuk hari kamu datang lagi.
    Kenapa harus bulan ini, Februari?

    Aku harus pergi.
    Tinggalkan aku sendiri.
    Jauh dari kamu, Februari.





    januari

    8 01 2009

    Jangan lagi kamu datang wahai Januari.

    Jangan lagi kamu sayatkan luka yang sudah aku bebat selama 334 hari.

     

    Sudah cukup aku merasakan malam panjang dan pergantian mimpi yang seharusnya berakhir di malam ketika kamu datang, Januari. Aku tak lagi mau kamu, Januari.

     

    Kamu cuma bagian dari keraguan yang terus merenggut hari-hariku yang seharusnya indah dan berpelangi. Kamu bagian dari fatamorgana mimpi yang sungguh tak mau aku tiduri. Oh! Jangan sampai aku harus menikahimu, Januari. Ke mana lagi larinya harga diri?

     

    Aku lelah memanggul beban ini, Januari. Kamu terlalu riskan untuk aku akui. Kamu tidak nyata, Januari. Kamu tidak ada di sini. Kamu akan pergi ketika bulan berganti dan muncul lagi setahun nanti.

     

    Akupun patah hati..

    Terlalu sering kamu pergi dan aku sibuk mengobati luka-luka yang mulai menggerogoti nyawaku ini. Aku berhalusinasi, Januari. Kamu tak pernah pasti. Aku hanya berharap sendiri.

     

    Cerita kita tidak akan pernah ada, Januari.

    Tidak sekarang, tidak besok, dan tidak juga nanti.

     

    Akupun tega membohongi diri sendiri..

    Tertidur di alam yang tak tentu selama 31 hari..

    Melarikan diri dari dunia yang tak mau akui, Januari..





    mar-uk, yang penting bukan dia!

    10 11 2008

    Kembali aku mendua. Ini bukalah kali yang pertama. Entah sudah yang keberapa. Yang jelas aku tak mau menghitungnya.

    Ini bukan salahnya, ini murni aku yang berdosa. Entah selalu ada yang kurang rasanya. Bukan,  bukan urusan bercinta. Atau rasa yang dia hujankan padaku semata. Entah karena apa. Mungkin akunya saja yang gila. Aku yang ingin main mata. Aku butuh rasa yang berbeda. Yang pasti bukan dia.

    Bosan.

    Dengan rutinitas yang itu-itu saja. Hidupku terasa hampa. Cinta tak lebih dari sekedar kata. Rindu bukan lagi hal yang aku damba. Yang pasti bukan dari dia. Aku mau yang lainnya. Entah siapa.

    Aku serakah.

    Dengan segala yang aku punya. Masih juga tidak mensyukurinya.

    Sungguh harusnya cukup aku bahagia dengan si empunya. Namun hati tidak pernah berpuas diri, aku manusia biasa. Hidup dalam dunia yang serba iri dengan tetangga. Jadilah aku terus meminta, hal yang lebih daripada lainnya.

    Sama halnya dengan soal si dia.

    Aku tidak mau cuma satu, lebih baik dua, atau malah tiga.

                    Asalkan aku tidak berdua saja dengan dia. Bukan, bukan cuma dia. Aku cuma berpura-pura. Selama ini aku hidup dalam dusta, aku tak lagi cinta.

                    Hmm.. Aku bosan dengan dia. Dengan setengah rasa yang mampu diberinya. Dan aku tak pernah merasa terpenuhi karenanya. Mungkin sebaiknya kita sudahi saja. Toh cinta tak lagi ada..





    duniawi

    9 11 2008

    Harusnya aku yang bicara.

    Aku yang punya ini kata-kata.

    Aku yang jadi tuan dari apa yang aku rasa.

    Aku yang berkuasa!

    Kamu tau apa?

     

                    Ketika Tuhan tidak lagi berkuasa. Manusia merajalela. Bertingkah seolah dia tau segala. Bisa merambah dunia dengan mudah pikirnya.

                    Tapi siapa pencipta? Tak ada yang ingat lagi pada-Nya. Semua sudah terlupa. Tak paham ada yang Maha Kuasa. Buta akan nikmat dunia. Teracuni oleh iblis yang bermukim di neraka.

                    Mereka pikir ini semua nyata. Merasa kalau dunia ini abadi rasanya. Bodohnya! jelas-jelas ini semua fana. Karena nanti akan juga tiba harinya. Saat manusia tak lebih dari serangga-serangga. Terbang menari-nari di udara. Tanpa pegangan dan suatu apa.

                    Tapi mereka tau apa?

                    Dunia dunia dunia..

                    Nikmat rasanya. Abadi di neraka. Mereka menimbun dosa. Dari mulai gibah sampai zina.

     

    Hingga nanti tiba saat di kuburnya,

    malaikat akan bertanya.

    Tapi mulut tak lagi untuk bicara,

    karena Tuhan yang berkuasa! 





    kata

    4 11 2008

    “let them remains in mystery, cause some stories are better left unspoken..”

     

    Kataku adalah suatu yang tabu. Satu yang harusnya tak kau tahu.

    Bukan untuk diperjualbelikan layaknya madu. Karena kata adalah hartaku.

     

    Milikku.

    Tidak untuk kubagi padamu.

    Hmm.. Mungkin boleh kau rasakan, tapi tak lagi kau boleh minta padaku.

    Cukup satu dan tak akan lagi ada yang lain atau bahkan membentuk sebuah lagu.

     

    Hartaku.

    Aku mau kamu, kataku.