Cuma Enak di Kepala

25 05 2008

bingung.

sekarang juga kepala lagi berdengung.

kayanya omongan yang harusnya keluar, teriakkan yang harusnya membahana, atau tangisan yang meraung-raung,

semuanya tertelan oleh bunyi dengungan yang daritadi terus mengganggu kuping, atau malah berasal dari dalam kepala?

hhhh…

mau jelasin apa yang lagi terjadi juga ga tau harus mulai dari mana.

kayanya hubungan yang sekarang lagi dijalanin cuma jadi ajang perpanjangan waktu akibat rasa terbiasa hidup di lingkungan yang sama.

padahal hasrat yang jadi asal muasal adanya perasaan itu, udah mulai terkikis oleh berbagai masalah yang terus datang.

dan bukannya pergi, masalah itu terus mengendap!

malah akhirnya mensedimentasi dalamnya perasaan itu, sampai sekarang perasaan itu jadi dangkal.

kita pun jadi sama-sama bebal.

terhadap perasaan yang bukan lagi milik berdua, dengan sedimentasi perasaan yang terus menerus menebal.

makin hari apa yang diharapkan untuk terus melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, semakin terasa jauh.

tapak tangga itu kini menyempit, terjal, berkelok, dan rapuh.

cita-cita itu sekarang menghilang tak berbekas.

padahal itu pegangan saat kita masih baru mekar dan merasa tak akan layu.

percaya bahwa itu akan selalu ada dan tak akan lekang oleh waktu.

tapi sekarang bisa dilihat bahwa itu semua hanya sebuah palsu, bagian dari bujuk rayu. yang harusnya bisa kutau kalau kamu sebenarnya tak pernah ada pada komitmen itu.

baru bisa terjawab sekarang semua tanda tanya yang terus menari-nari, kenapa selama ini hari-hari sperti gak pernah berganti.

aku seperti bercinta sendiri.

kamu ga ada-cuma enak di dalam kepala.

saat kamu cuma bisa dikenang lewat semua canda dan tawa, tanpa berat beban masalah yang terus melanda, dan rasa kurang yang terus menerus menerpa.

kamu di mana?

aku mau kamu yang pernah ada,

bukan hanya di dalam kepala.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar