Written : Somewhere in July 2007
Tak kuingat apa yang terjadi semalam. Hanya tau ketika itu aku bilang, “SATU”. Setelah itu semuanya tampak kabur dan melayang.
“SATU”
Setelah itu kureguk dengan penuh kenikmatan. Hilang sedikit akal dan bertambah lagi. Aku seakan tak ingin berhenti. Sampai hiruk pikuk menenggelamkan sadarku. Lalu tangan-tangan serakah menelan tubuhku. Hingga tak satu incipun mereka lewatkan.
Malam.
Semalam nampaknya aku tak sadar, terkapar. Merayap sedikit demi sedikit ke tempat seharusnya aku berada tiap malam. Tapi tak pernah kurasa adanya. Aku terlalu sibuk pergi dan baru kembali setelah semuanya terang. Ya, tentunya sambil mengumpulkan robekan diriku yang tercecer dan nyaris punah.
Aku tak mau berhenti. Tak pernah ada kata berhenti.
Kembali malam ini kuulang lagi yang mereka sebut surga duniawi. Neraka yang kutau akan abadi di penghujung hari. Ah, persetan! Siapa yang peduli?
Sama seperti malam sebelumnya, sebelumnya, dan sebelumnya lagi. Mungkin ini malam yang keseribu.
“SATU,” kubilang.
Lalu akupun terlelap sambil kembali mereguk dosa.