rasa dan kata

1 11 2009

breeding superstition
a fatal premonition
you know you got to envision
the fiery crash

(Fiery Crash – Andrew Bird)

 

Saya mungkin bukan orang yang pandai bersyukur. Saya juga bukanlah orang yang selalu mengeluh terhadap hal-hal sepele yang malang melintang di kehidupan ini.

Namun ada kalanya saya bertanya-tanya. Seperti perasaan tidak puas yang terus mengganjal. Bertahun lamanya terus mengendap dan sesekali keluar untuk memuntahkan laharnya. Sekedar menunjukkan bahwa hal itu nantinya akan kembali terpendam. Diam sampai tiba waktunya untuk lahar itu keluar dari perutnya. Intinya. Pusatnya.

21 tahun. Ah  bukan, nyaris 22 tahun.

Saya bergelut dengan kepala. Saya bergelut dengan rasa.

Pertanyaannya: kapan ya?

Mungkin mereka tidak mengenal saya. Mungkin mereka tidak peduli dengan keberadaan saya. Namun ptongan-potongan gambar itu selalu membuat saya iri. Membuat rasa penasaran saya meledak-ledak. Saya ingin tahu rasanya. Seperti apa?

Berkali-kali saya mencoba menyelamatkan diri dari kubangan yang sama. Tapi hasilnya tak pernah berbeda. Mungkin nanti saatnya. Entah kapan dan dimana. Saya yang harus memotong garisnya.

Terus-terusan menganggap ini semua bencana. Sialnya bukan saya yang berencana. Lalu hendak apa? hendak bagaimana? Ini kehendak Yang Maha Kuasa.

Mendengus kesal tiada henti. Diselingi derai tawa bahagia. Mengiringi kepalsuan dan tanda tanya yang terus menerus bertengger di kepala. Jiwa terus menerus memanggil. Ujungnya hanya lolongan kosong yang menemani saya sampai hari akhirnya berganti.

Baru saja terpikir bahwa nyaman itu ada. Tapi lagi-lagi harus mencincang dan merajam semua pikiran yang ada. Fatamorgana. Bayangan itu hanya sekelebat saja. Ketika potongan-potongan gambar itu kembali menempatkan faktanya di depan mata. Saya hanya bisa tergagap. Lalu perlahan terdiam dan berpikir untuk mengakhiri saja.

Tapi lagi-lagi bukan saya yang berkuasa. Saya hanya cameo dalam drama panjang kehidupan Yang Maha Kuasa.

Rasa iri berubah menjadi dengki. Dengki meluluhlantakkan semua harapan yang pernah saya bangun. Apatis. Saya berubah menjadi apatis.

Untuk apa saya percaya angan-angan kalau nantinya semua hanya akan menyerang balik dan merobek-robek indahnya khayalan? Lebih baik diam dan menggumam sendiri. Merepel mantera bahagia walaupun itu semua sia-sia.

Saya bukan seorang yang pesimis. Saya bukan juga orang yang optimis.

Terlalu banyak kenyataan pahit yang saya lihat dan buktikan dengan mata kepala sendiri. Membuat saya tidak tahu lagi harus percaya yang mana. Memilih langkah yang mana. Memposisikan diri saya di mana. Semuanya nampak salah.

Rasa aman dan tenteram menjadi barang langka dan mahal bagi saya. Kehidupan pada akhirnya dinilai dengan nilai materi yang dibuat-buat belaka. Hilang sudah rasa ikhlas dan bangga. Saya tidak lebih dari cacian dan hinaan dari rasa kecewa yang mereka elu-elukan. Sialnya saya menerima.

Kepuasaan batin nyaris tidak terasa. Saya terlalu sibuk bergulat dengan masa lalu dan berharap utnuk tidak mengulang sejarah yang sama. Dua kali kegagalan. Akankah ada yang ketiga?

Mungkin bukan keinginan mereka bahwa saya akhirnya menginjakkan kaki ke dunia. Mungkin bukan ingin  mereka bahwa akhirnya saya bernapas di liangnya. Mungkin bukan ingin mereka saya akhirnya merajalela di rumahnya.Tapi tentu bukan pilihan saya untuk memiliki mereka untuk mejadi tempat bernaung nantinya.

Saya kehilangan nyawa.

Mereka terlalu sibuk menambal luka-luka yang terlanjur menganga. Mereka terlalu sibuk dengan keadaan duniawi hanya untuk membalaskan dendam yang lama. Mereka terlalu sibuk untuk mencari-cari kesalahan yang bukan milik empunya.

Saya adalah penggambaran kegagalan mereka. Tidak pernah terbesit kesempatan untuk dapat memperlihatkan sinarnya. Saya meredup. Saya kisut. Saya memudar. Mungkin nantinya juga modar.

Saya saya saya.

Saya kembali bergelut dengan kepala. Saya kembali bergelut dengan rasa.

Pertanyaan itu terus membombardir kepala.

Mungkin nanti. Lima atau sepuluh tahun lagi.

Mungkin saya bisa.

Mungkin saya akhirnya akan punya..

sebuah keluarga..





This is it. This is love.

31 10 2009

I almost forget the way it feels.

The way it taste.

The way it touch.

The way I survive the pain

The way I cherish the moments.

 





    AAAAA

    23 10 2009

    Beginilah adanya. Beginilah awalnya.

    Karena mereka tidak ada yang percaya bahwa ternyata satu adalah kita.

    Jangan pedulikan gunjingan mereka tentang kita. Karena siapa pula yang akan menyangka?

    Rasa sakit hati dan akhir dari sesuatu yang panjang lah yang membawa kita ke sana. Ke sebuah jalan yang membuat kita harus bersapa di ujungnya. Padahal nyaris seribu lima puluh hari kita tak bicara. Bersua pun hanya sekadarnya. Tidak bersuara.

    Awalnya hanya coretan semata. Iseng-iseng belaka. Gurauan tanpa makna. Pertemuan-pertemuan sekenanya. Lama-lama berubah jadi apa-apa. Getar-getar malu yang saling bersembunyi di balik kedok kata suka. Tapi ternyata suka bukan definisi tepat untuk mengutarakannya. Lalu apa?

    Tertarik. Ada magnet dari dirimu yang membuat saya bergidik. Semilir tapi pasti kamu membuat perasaan ini naik turun dan menukik. Cemburu-cemburu yang membuat saya tercekik. Dan cupid pun mulai menghardik.

    “INI CINTA! MASIH JUGA KAMU MALU MENYADARINYA?!”

    Apakah iya?

    Saya bertanya-tanya.

    Tapi luka lama masih menyisakan trauma. Masih tersimpan aromanya. Masih bisa saya hirup perihnya. Masih bisa saya genggam dosanya.

    Kamu pun begitu. Berusaha melepaskan predikat yang makin lama kian melekat. Menjalar-jalar hingga membuat hati kamu tersumbat. Indra perasamu makin terhambat. Dan waktu pun akhirnya melambat. Menyisakan keremangan masa lalu yang hanya membuat hidup kamu tersendat.

    Namun siapa yang bisa berkehendak?

    Apakah kamu? Apakah saya?

    Siapa?

    Cepat. Mendadak waktu bergerak begitu cepat.

    Seperti mengerjapkan mata. Seperti kilatan cahaya. Seperti getaran gempa. Seperti sedapnya harum bunga. Seperti euphoria yang mendadak berputar dan memenuhi seluruh rongga dada.

    Tersadar. Lalu dada berdebar. Bibir tak hentinya berkoar.

    “CINTA CINTA INI EUPHORIA CINTA CINTA INI EUPHORIA!”

    Lalu kita pun terbutakan oleh gegap gempita kesenangan tanpa batas. Spontanitas yang melewati ambang batas. Lepas lepas lepas lepas!

    Pergi semua duka yang pernah menghajar! Pergi semua derita yang menyambar! Pergi semua galau yang pernah membakar!

    “HATI INI SEDANG MEKAR!”

    Ah sungguh saya tak peduli lagi dengan segala yang ada. Mungkin saat ini saya cuma butuh kenangan yang pas saja. Karena mungkin besok tidak lagi sama. Tidak perlu rakus dengan kesempurnaan yang ada.  Saya cuma butuh kamu, cinta..





    Nanti

    10 10 2009

    Nanti nanti.

    Biar saya pikirkan lagi nanti-nanti. Tidak sekarang tidak juga hari ini.

    Masih terlalu muda untuk memikirkannya, buat apa bersusah diri.

    Biarkan saja kali ini emosi meledak-ledak dan hidup dalam ambisi.

    Terobsesi. Adiksi.

    Nanti nanti.

    Pikirkan saja nanti. Toh masih lama juga nyawa bakal lari.

    Yang penting hati senang dan puas menari-nari.

    Ya, karena ini adalah kata sakti. Penawar rindu pembalut sakit hati.

    Ambisi.

    Obsesi.

    Adiksi.

    Saat ini..

    Saya jatuh hati.





    Feb.

    26 02 2009

    Februari.
    Kamu datang dan pergi. Tidak pernah jelas berapa hari.
    Apakah 28 atau 29 tahun ini.

    Februari.
    Kamu terasa berat. Aku berkali-kali tersesat. Di semak hari yang menebar dia antara bulan ini, Februari.
    Aku ingin pergi, Februari. Melupakan aroma bulan yang harusnya penuh cinta, tapi kamu tak lebih hanya memberiku luka dan sengsara.

    Februari.
    Aku perih.
    Aku sedih.

    Aku bukan lagi setaun lalu yang berbahagia denganmu, Februari.
    Aku pemuran yang tak henti menyesali nasib dan mengutuk hari kamu datang lagi.
    Kenapa harus bulan ini, Februari?

    Aku harus pergi.
    Tinggalkan aku sendiri.
    Jauh dari kamu, Februari.





    Plurk timeline

    9 09 2008




    d.u.a

    1 09 2008

    Apa kamu percaya? Hari ini kita mungkin bercinta, tapi besok kita main mata. Semuanya tidak pernah sama. Kita terlalu cinta pada dunia. Dunia kebebasan yang sama kita kecap dan kita sembah berdua.

    Berdua. Apa kita saling mencinta?

    Aku tidak tahu benar apa perasaan itu ada. Perasaan itu apa?

    Mengulang lagi hal yang sama. Hanya saja harinya berbeda. Kita bercinta dan main mata. Siapa sangka kalau kita sudah berdua? Kita malah membuat orang berprasangka, bertanya-tanya.

    Ada apa dengan kita?

    Aku pernah menyangka bahwa kita berdua begitu sempurna. Bahwa kita adalah sebuah kisah yang nyata. Yang membuat iri berpasang-pasang mata. Bahwa kita telah membuktikan pada dunia kalau yang namanya cinta itu ada.

    Sungguh aku ingin percaya. Tolong bantu aku membuka mata!

    Bahwa memang hanya ada kamu di ujung jalan sana. Bahwa memang kamu yang selama ini yang menggandengku ketika aku gelap mata. Bahwa kamu memang yang pantas aku punya.

    Kali ini jangan lagi ada. Hari ini bercinta, besok main mata. Karena aku yakin tak akan mampu lagi menahan sebilur luka, yang memang aku toreh sendiri untuk melihat dunia. Untuk merasa bahwa, sakit itu pasti ada.

     





    kompilasi komplikasi

    3 08 2008

    08.28 PM. Wednesday, July 23, 2008.

    Subject: kompilasi komplikasi

     

    Perempuan itu berkata,

    Tak masalah buatku kalau dia mau mendua. Toh aku melakukan banyak kesalahan. Aku sering melakukan dosa. Tanpa tahu sebenarnya apa aku punya tujuan.

    Pria itu bertanya,

    Apakah kamu tidak merasakan sakit hati?

    Perempuan itu menjawab,

    Itu sebuah hal yang pasti. Tapi aku harus tahu diri. Bagaimana dengan kamu, apa kamu tahu apa yang dia rasakan sekarang ini?

    Perempuan itu menggenggam tangan pria itu. Si pria balas menciumi tangan perempuan itu. Kemudian dia terdiam selama beberapa saat. Memikirkan jawaban yang paling tepat.

    Pria itu terdiam.

    Perempuan itu buka suara,

    Aku tahu rasanya, aku perempuan sama seperti dia.

    Pria itu bertanya,

    Seperti apa?

                    Seperti ini, kata perempuan itu.

    Bagaimana? Tanya pria itu kebingungan.

    Perempuan itu menghela napasnya. Terdiam sejenak dan menjawab pertanyaan lelaki itu.

    Rasanya lebih mudah untuk pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Menutup mata melihat semua masalah ini. Lebih mudah bagiku untuk hanya menghirup harum tubuh kamu, daripada harus mendengar nama kamu dielukan oleh yang bukan aku. Itu sama mudahnya dengan membiarkan bayangan kamu terpeta dengan jelas di kepalaku, daripada aku harus melihat kamu di depanku dengan cincin yang terselip di jari itu.

    Pria itu kemudian memeluk perempuan itu dengan segenap perasaannya. Seolah tak mau melepaskan perempuan itu dari pelukannya.

    Apa kamu tahu bahwa yang aku bilang kepadamu bukan bohong? Jangan kamu pikir ini semua omong kosong.

                    Apakah aku harus percaya? Apakah kamu bisa menentukan pilihan antara aku dan dia? Perempuan itu bertanya. Kini matanya mulai berkaca-kaca.

    Pria itu terdiam lagi. tapi kali ini tidak berapa lama. Dia balas bertanya,

    Apakah kamu bisa memilih antara aku dan dia?

    Itu jelas bukan yang aku mau. Kamu tau apa yang aku rasakan. Tapi apa kita bisa kabur dari takdir dan kenyataan? Ini adalah antara yang mungkin tak akan pernah membuat kita satu.

    Pria itu menyeka air mata yang mulai menetes di pipi sang perempuan.

    Perempuan itu kembali buka suara,

    Aku berpikir, tak masalah jika dia mendua. Toh aku juga sama saja. Tapi di saat yang sama, kalau saja itu memang akan menjadi nyata. Aku pasti tak akan rela. Aku tak mau dia terbagi dua. Aku berpikir untuk melakukan hal yang adil baginya, tapi faktanya itu cuma omong besar belaka. Aku tak bisa berlapang dada. Lalu aku berpikir lagi, asalkan dia kembali padaku, tak masalah dia mau melanglang buana. Terbang dan pergi entah ke mana, yang jelas dia pulang kepadaku, si empunya. Tapi pikiran lain muncul, apa aku sebegitu bodohnya?

    Pria itu berkata,

    Semuanya terasa berat. Perlahan tapi pasti ini mulai membunuhku. Apa kamu merasakan hal yang sama denganku?

    Perempuan itu menjawab,

    Aku sudah bisa memprediksi akhirnya pasti begini. Andai saja kita bisa membalikkan waktu kembali. Atau menghentikan waktu sampai kita puas mengasihani diri, atas takdir yang tak berpihak pada rasa ini.

    Kenapa kita tidak dipertemukan lebih cepat? Kenapa kamu yang datang terlambat? Kenapa kita harus diasingkan dan dihambat? Kenapa kita harus sudah terikat?

    Pria itu merutuk dan menyesali diri. Perempuan itu memeluk si pria sambil berkata,

    Kalau saja kita tidak pernah bertemu, pasti semuanya terasa lebih mudah. Apa kamu tahu, hatiku saat ini berdarah-darah?

    Pria itu memeluk erat si perempuan sambil menciumi keningnya. Mereka berdua terdiam. Hanyut dalam melankoli yang melanda. Membiarkan hening yang menjadi alunan lagu cinta mereka berdua. Merasakan bahwa setiap detik yang dapat mereka nikmati berdua merupakan suatu berkah, meskipun itu semua salah.

    Aku tahu apa yang kamu rasakan, aku juga berdarah. Sungguh tanpa kamu aku kehilangan arah. Aku tak ingin meyerah. Apakah aku salah?

    Mungkin aku memang perempuan yang penuh cela, sedangkan kamu nyaris tidak memperlihatkan suatu noda. Dari milyaran manusia di dunia, kenapa mesti kita?

    Karena aku di sini untuk menjaga kamu. Supaya tidak terjerumus dalam kesesatan yang nyaris mengenggelamkan kamu. Aku rela memberikan apa saja untuk kamu.

    Kalau begitu, apa kamu rela melepaskan masa lalu? Apa kita mampu? Apa kita memang sudah siap untuk maju? Apa kamu mau? Aku pusing, tanda tanya ini selalu berputar di kepalaku.

    Pria itu terdiam. Tapi perempuan itu tidak butuh jawaban yang pasti. Bahkan sebenarnya dia tidak butuh jawaban apapun. Mereka sudah tahu jawabannya.

    Kalaupun ada akhirnya, kita pasti tak akan mau begini. Jangan sampai kita menyesal nantinya. Satu yang harus kamu yakini, aku tidak pernah bohong pada kamu.. AKU SAYANG KAMU.

                    Begitupun juga aku, kata perempuan itu. Lirih. Suaranya nyaris tak terdengar. Yang dibutuhkan bukanlah telinga. Tapi seluruh jiwa raga untuk mendengar suara hati mereka.

    Andai saja kita tidak pernah bertemu, pasti segalanya lebih mudah. Kita pastinya tidak akan berbelok arah. Kita harusnya menyerah saja, toh kita tetap akan kalah. Dunia bukanlah tandingan kita. Hadapi saja apa yang ada. Tapi jangan pernah lupakan aku..

    Bagaimana mungkin aku melupakan kamu?

                    Entahlah, aku tidak mau tahu. Maafkan aku sayangku, tapi sebaiknya aku pergi.

    Ya, memang sebaiknya kita pergi, kata pria itu sambil memeluk dan mecium kening perempuan itu sekali lagi.

    Mereka saling berpandangan. Berusaha memetakan memori yang benar untuk suatu saat nanti diputar dan diproyeksikan di depan mata. Berharap itu merupakan hal yang solid dan bukanlah fatamorgana.

    Maafkan aku untuk menyayangi kamu lebih dari apa yang bisa aku beri, lebih daripada yang bisa kamu terima.

                    Maafkan aku karena kesalahan yang aku perbuat, menyebabkan kita menjadi begini.

    Aku bersyukur kamu melakukannya waktu itu, kalau tidak… mungkin aku tidak akan pernah merasa sekuat dan setegar ini. Aku sayang kamu.

                    Aku juga sayang kamu…

    Perempuan itu melangkah pergi, begitu juga dengan pria itu. Meninggalkan ruang kosong dengan jendela yang berhiaskana gerimis di kala itu . Meninggalkan sebuah lubang di tengah ruangan sepi bertembok kaku. Meninggalkan sebuah hasrat yang akhirnya kelabu, sama seperti hati yang beku dan biru.

     





    13 05 2008

    sebenernya niat saya adalah membuat blog dengan nama “roller coster life”, tapi ternyata nama itu udah ada yang punya. jadilah terpaksa saya harus memutar otak mencari nama yang punya arti tertentu untuk blog saya. dan akhirnya terpikirlah “split of a second” ini.

    nama blog ini sangat terinspirasi dari lagu “split of a second-tiger baby”. tapi sbenernya ga ada hubungan sama skali blog saya ini dengan lagu itu. karena lagu itu tentang lagu patah hati, tapi blog ini menceritakan tentang berbagai macam hal dan bukan  hanya terpatok pada masalah patah hati aja.

    kenapa split of a second?

    saya pikir, pasti semua orang menggunakan beberapa detik bahkan menit atau jam dari 24 jam kehidupannya di dalam 1 hari, untuk mengingat dan merenungkan kehidupannya.  jadi menurut saya, split of a second ini pas banget untuk menggamabarkan bagaimana saya sering merenungkan dan memikirkan apa yang terjadi pada hidup saya. baik itu yang memang terjadi atau sekadar malang-melintang di kepala saya.

    yah.. kira-kira begitulah kenapa akhirnya menjadi split of a second… :)

    dan sebelumnya, saya ucapkan banyak terima kasih bagi orang-orang yang sudah merelakan sedikit waktu dari 24 jam dalam 1 harinya untuk mampir dan mengintip blog saya..

    enjoy! :)