ahnanonano

26 09 2008

Gelisah.

Malam ini aku kembali resah.

Di mana kamu, sayang?

Perih ini kembali datang mengetuk pintunya. Rindu ini merasakan jurangnya. Kesepianku yang telah bertemu tepinya.

Mungkin malam ini memang untuk kamu, sayang.

Hausku telah merobek pembuluh darahku. Mengais-ngais jejak yang sudah kamu tutupi dengan debu. Aku ingin menghantui kamu. Sungguh.

Tapi di mana remah yang kamu tinggalkan, sayang?

Gelisah.

Aku tersesat. Di mimpi yang pernah kukecap, walau hanya sesaat. Merasakan mabuknya luka yang kamu sayat. Dan panasnya hati, kala cemburu pernah membuatku berat.

Aku rindu manis yang membuatku muntah, sayang.

Aku rindu asam yang membuat lukaku semakin perih, sayang.

Aku rindu pedas yang membuatku ketagihan, sayang.

Aku rindu pahitmu, sayang.

Karena pahit itu membuat aku yakin kalau memang kamu ada. Kalau kamu pantas mendapatkan secuil rasa. Kalau memang rindu ini tidak ada yang punya. Kalau kamu memang bukan yang jadi tuannya.

Kalau kita tidak lagi bersama.





m e n d a m b a d o s a

17 09 2008

Aku mencumbu rasa perih yang kau sayat berkali-kali.

Aku menjilati luka yang kau biarkan menganga berhari-hari.

Aku menduri mimpi yang selalu kau ludahi.

Aku memeluk benci yang kau siramkan setiap hari.

Aku mendambakan dosamu, sayangku.

 

3 tahun. 36 bulan. 1.095 hari. 26.280 jam. 1.576.800 menit.

Aku lelah mengais mimpi yang selama ini aku harap akan kamu lemparkan padaku. Anggap saja aku pengemis di luar sana yang selalu menghiba mengharap kamu. Tapi mana pernah kamu peduli? Tunggu saja, sayang.. Sampai tiba saatnya aku menghilang dari hadapan kamu. Kamu akan sadar betapa pentingnya aku.

Aku tau kalau ini mungkin cinta. Kalau ini mungkin masa depan yang nantinya akan kita tapaki bersama. Tapi maafkan aku sayang, kita tidak lagi memakai sepatu yang sama. Visiku telah berubah. Di kamusku tidak lagi tertulis nama kamu.

Aku merasakan gelombang antusiasme di sekujur tubuhku. Aku lepas dari kamu!

Ya kamu! Ini merupakan petualangan yang baru di hidupku. Maaf sayang.. aku sudah cukup bersabar untuk kamu. Maaf kalau kali ini aku terpaksa menepis harapan yang kamu hujankan padaku. Bukan sekarang yang aku mau. Itu dulu. Mungkin tidak terlambat. Hanya saja aku sudah tidak mau. Tapi sekarang itu sudah tidak penting lagi bukan, sayangku?





siento

15 09 2008

sorry: feeling or expressing regret or sorrow or a sense of loss over something done or undone.

 

i’ve lost a lot of things only in one night. yap! gue harus nge-delete/nge-hide memori gue slama 3 taun. hmm.. tnyt memutuskan sebuah (what-so-called) long relationship is not a good idea at all yah! susah buat baik2 lagi, krn terlalu menyakitkan. yah.. asumsi gue sih sperti itu yah. mnrt lo?

gue sbenernya ga mikir yang muluk2 pas ngejalanin my former relationship. knp? krn yahh tadinya mungkin ada sih ngayal2 menuju jenjang yg lebih pasti. tapi tnyt keyakinan gue yang ada itu lama kelamaan surut, seiring sama jalannya waktu. smuanya berubah cuma jadi comfort zone semata, dan gue spoiled aja dgn smua itu. ujung2nya gue suka ngegampangin apa yang gue punya.

pasti pada nyangka kalo sifat gue jelek bgt kan?

terserah lah. banyak yang nge-push gue untuk ini-itu. padahal itu sbenernya bukan yang pengen gue lakuin. gue terlalu sibuk dengerin apa kata orang, dan sibuk struggling dengan masalah gue. akhirnya pikiran gue kebagi dua. bingung, clueless. padahal katanya sih gue udah punya jawabannya. heh? dari mana??? wangsit dukun?

krn keadaan gue yang terus berlarut2 itu lah akhirnya gue menyakiti banyak pihak. sedih sih. tapi gue berpikir, “Ini saat yang paling pas buat lo egois!” dan ternyata adalah gue tidak menemukan jawaban apapun sama skali. walaupun udah terlontar sebuah jawaban, tetep aja gue mikir kalo jawaban itu masih bisa berubah karena orang pasti akan mengerti dengan mau gue.

manja, egois bgt kan?

tapi deep down inside, gue ga seegois itu ko. beneran deh! gue terus2an nyalahin diri gue sendiri sama keputusan 2 yang udah gue perbuat. kebodohan2 yang gue lakuin. dan hal2 yang gue jalanin tanpa pikirin  ke depannya gmn.

gue jalan di tempat.

tapi akhirnya gue berpikir, “There’s must be something with all this signs and premonitions.”

you may say that this is cheesy, but i call it faith.

knp pada akhirnya gue harus berpisah dengan si masa lalu dan ber halo-halo ria dengan si masa skarang. dengan segala kemungkinan yang ada, akhirnya gue berasumsi, kalo.. maybe this is the answer for my prayer.

 

lo siento, chico. lo siento.

 

gue menyadari kalo tnyt ini terlalu menyakitkan buat kita semua dan pada akhirnya gue harus tetap memilih. dan di bawah tekanan. gue mendeklarasikan kalo sbaiknya gue dengan keadaan gue yang sperti skrg.

sedihnya, gue ga bisa berbaik2 sama si masa lalu. krn dia mungkin pgn nge-erase gue dari memorinya. krn mungkin byte-nya terlalu besar sampe akhirnya bikin rusak. ga apa2. gue duah tau konsekuensinya. toh awalnya itu smua salah gue.

hmm.. maafin gue. bukan brarti gue ga sayang dengan masa lalu gue. cuma gue harus bisa mendewasakan diri dengan ngejalanin pilihan gue. bertanggung jawablah paling ga. lagian kalo ga gue coba kan ga akan pernah tau?

yahh.. harapan gue sih smoga keadaan bisa lebih baik. smoga ada hal yang bisa diubah tanpa harus ngorek2 luka lebih dalem lagi.

 

maafin gue. maafin gue. maafin gue, dan maaf pun ga akan pernah cukup buat ngehapus sakit hati yang pernah kita rasain.

maaf ya…





membelidosa

11 09 2008

Written : Somewhere in July 2007

Tak kuingat apa yang terjadi semalam. Hanya tau ketika itu aku bilang, “SATU”. Setelah itu semuanya tampak kabur dan melayang.

“SATU”

Setelah itu kureguk dengan penuh kenikmatan. Hilang sedikit akal dan bertambah lagi. Aku seakan tak ingin berhenti. Sampai hiruk pikuk menenggelamkan sadarku. Lalu tangan-tangan serakah menelan tubuhku. Hingga tak satu incipun mereka lewatkan.

Malam.

Semalam nampaknya aku tak sadar, terkapar. Merayap sedikit demi sedikit ke tempat seharusnya aku berada tiap malam. Tapi tak pernah kurasa adanya. Aku terlalu sibuk pergi dan baru kembali setelah semuanya terang. Ya, tentunya sambil mengumpulkan robekan diriku yang tercecer dan nyaris punah.

Aku tak mau berhenti. Tak pernah ada kata berhenti.

Kembali malam ini kuulang lagi yang mereka sebut surga duniawi. Neraka yang kutau akan abadi di penghujung hari. Ah, persetan! Siapa yang peduli?

Sama seperti malam sebelumnya, sebelumnya, dan sebelumnya lagi. Mungkin ini malam yang keseribu.

“SATU,” kubilang.

Lalu akupun terlelap sambil kembali mereguk dosa.





Plurk timeline

9 09 2008




worse-worst

7 09 2008

humpf. akhir-akhir ini keadaan gue super AMBURADUL! sial! pengen menata kehidupan yang udah gue hancurkan sblomnya tapi ternyata yang ada gue malah makin nambah masalah. dan sialnya lagiii.. gue seakan ga kapok sama kelakuan gue. HEBAT!

gue merasa ga guna dan super clueless. kayany yang gue lakuin salaaaaahh aja mulu. udah gue bilang kalo kaya gini mulu mendingan gue sendiri aja. but unfortunately, people won’t let me alone! screw them! sebal! they keep yelling at me, tell me what’s wrong and what’s right when they don’t even know what’s best for they’re own.





d.u.a

1 09 2008

Apa kamu percaya? Hari ini kita mungkin bercinta, tapi besok kita main mata. Semuanya tidak pernah sama. Kita terlalu cinta pada dunia. Dunia kebebasan yang sama kita kecap dan kita sembah berdua.

Berdua. Apa kita saling mencinta?

Aku tidak tahu benar apa perasaan itu ada. Perasaan itu apa?

Mengulang lagi hal yang sama. Hanya saja harinya berbeda. Kita bercinta dan main mata. Siapa sangka kalau kita sudah berdua? Kita malah membuat orang berprasangka, bertanya-tanya.

Ada apa dengan kita?

Aku pernah menyangka bahwa kita berdua begitu sempurna. Bahwa kita adalah sebuah kisah yang nyata. Yang membuat iri berpasang-pasang mata. Bahwa kita telah membuktikan pada dunia kalau yang namanya cinta itu ada.

Sungguh aku ingin percaya. Tolong bantu aku membuka mata!

Bahwa memang hanya ada kamu di ujung jalan sana. Bahwa memang kamu yang selama ini yang menggandengku ketika aku gelap mata. Bahwa kamu memang yang pantas aku punya.

Kali ini jangan lagi ada. Hari ini bercinta, besok main mata. Karena aku yakin tak akan mampu lagi menahan sebilur luka, yang memang aku toreh sendiri untuk melihat dunia. Untuk merasa bahwa, sakit itu pasti ada.

 





the hush sound – don’t wake me up

28 08 2008

You came to me

In seamless sleep

Slipped right in

Behind my eye

On the back of my mind

We swam a sea

Of pretty sights and chandelier skies

I swore I could feel you breathe

It was all so real to me

 

The light had slipped through the window

The morning ripped you away oh

 

Don’t wake me up

I am still dreaming

The story’s undone

Unravel at the seams

Don’t wake me up

Death is misleading

And when I fall sleep

Sleep with your ghost

 

I looked in the dark

The room calm and cold

And quiet hollow

I am such a haunted soul

Your ghost has gone to bed

Its all cold

 

The light had slipped through the window

The morning ripped you away oh

 

Don’t wake me up

I am still dreaming

The story’s undone

Unravel at the seams

Don’t wake me up

Death is misleading

And when I fall sleep

Sleep with a ghost

 

Oh you were a fire caught in a storm

Memories like embers keep us warm

You will leave me in the morning me





5 Watt

27 08 2008

01.35 am. Friday, August 08, 2008

Subject: 5 watt

 

Lampu di sini redup. Nyalanya tidak lebih dari lima watt. Remang-remang membuat pandangan kabur. Tidak terlihat siapa-siapa di sana. Yang ada hanya bayangan hitam berkelebat dari satu sisi ke sisi yang lain.

Grrr…

Pikiran mulai berkelana sembarangan. Hal-hal yang tak masuk akal, sekarang diterima kehadirannya di pintu bernama logika. Ketakutan merupakan santapan harian yang kini berteman baik dengan saya. Saya bersahabat dengan rasa takut.

Lampu kembali meremang, sama dengan bulu kuduk saya saat ini. Ibarat kuncup bunga yang mekar pada musimnya. Saya ketakutan. Tapi takut menyapa saya. Dia berkata bahwa ini tidak apa-apa. Bahwa ini sesuatu yang harus saya  lalui, bahwa lampu itu hanya sbeuah ilusi. Karena di sini memang tidak ada cahaya. Walaupun seberkas cahaya.

Ya, karena pijar harapan tidak dijual bebas di sini. itu merupakan barang langka, atau obat keras yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter.

Saya kembali berjalan. Berkali-kali tersesat, ternatuk dan jatuh. Pada akhirnya saya lelah. Saya putuskan untuk berhenti. Beristirahat sejenak dan menikmati gelap. Menyanyi bersama sepi. Bercanda dengan sunyi.

Lampu itu padam. Pekat.

Grrr..

Ketakutan merajalela. Menjajah tiap millimeter kepala saya.Hush hush! Ayo sana lekas pergi! 





temo que si…

27 08 2008

temo que si, temo que no.

hati mana yang tidak kalang kabut ketika yang lain saling berebut. kalut. merasa dirinya yang paling patut, mendapatkan hati yang baru berhenti bertaut.

sial!

harusnya dipikirkan dulu sebelum bertindak. supaya akhirnya tidak lagi terjebak. dalam situasi menyebalkan yang bisanya cuma bikin dada terasa sesak. dan ujung-ujungnya pasti menangis sambil terisak.

bodoh!

kalau saja logika dan nurani bisa saling kompromi. atau jadi satu tim yang saling melengkapi, pasti semuanya tidak akan jadi kacau begini. selalu gegabah dan serakah sendiri. jadilah akhirnya tak jelas lagi. padahal yang satunya lagi pasti sakit hati.

keparat!

kenapa selalu saja terlalu cepat mengambil pilihan? akhirnya jadi bingung dan lari dari permasalahan. kabur entah ke mana sampai semua itu hilang ditelan jaman. dasar perempuan murahan!

taik!

rasanya seperti sembelit. bikin perut melilit-lilit. kalau ditahan sakit, dikeluarkan rasanya bikin marit! perasaan ini bikin kecepirit! lebih baik sekarang kabur lagi pakai jurus lari terbirit-birit.

bangsat!

sekarang sudah bertransformasi jadi atlit handal. pelari jarak jauh untuk kabur dari para begundal. yang selalu sibuk dan ingin tahu urusan orang, dasar sundal!

brengsek!

sekarang rasanya jadi kebal. tak tahu malu, perasaan juga jadi bebal. tidak peduli pula jika harus disebut sundal. toh tetap saja bahagia walaupun kehidupan sekelas abal-abal. lagian siapa yang peduli? sudah tekbal!

anjing!

bukan takut yang dirasa lagi. tapi sepi ini sudah menjadi raja dan ratu di diri. beranak pinak sampai membuat koloni. menjajah dan membuat itu semua terasa alami. mungkin sekarang sudah tak punya lagi hati. siapa yang peduli? sekarang semuanya semau sendiri.

setan!

harusnya ini cepat-cepat disudahi. tapi keberanian tidak lagi ada di sini. dia sudah hilang dan pergi. jauh sebelum matahari menampakkan pagi. harusnya kita ssemua sadar diri, sekedar mempertingati diri. supaya tidak jatuh korban lagi. atas semua permainan hati yang bikin sakit dan mati.